Pedagang Jajanan di Sidareja Ini Sediakan Perpustakaan Gratis

Menumbuhkan minat membaca buku memang tidak gampang. Apalagi, di era digital seperti sekarang, buku bacaan seperti kehilangan “roh”nya. Namun, ada saja cara untuk menumbuhkan kembali minat membaca khususnya kaum muda.

Seperti yang satu ini. pedagang jajanan otak-otak di Kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap, selain menjajakan dagangannya. ratusan buku bacaan berbagai macam genre juga turut dijajakan pula.

image

Anton bersama dengan buku dan gerobag dagangannya (foto:istimewa)

Bukan untuk dijual, melainkan untuk dibaca setiap pembeli jajanannya, bahkan yang tidak membeli pun dipersilahkan membaca.

Anton Wibowo, pria asli Sidareja itu sehari-hari berjualan jajanan otak-otak di area alun-alun Kecamatan Sidareja. Selain berjiwa wirausaha, ia mengaku sangat gemar membaca. Dia membuat komunitas bernama Gembus (gerakan membaca buku sidareja), selain untuk menghimpun orang-orang yang gemar membaca, Ia berkeinginan juga menumbuhkan kesadaran membaca bagi kawula muda khususnya.

“Keseharian saya kan berdagang, sering lihat anak-anak sekolah sehabis belajar di sekolahan terkadang waktunya habis di Handphone (HP),” ungkap Anton saat ditemui di alun-alun Sidareja.

image

Salah satu pengunjung sedang memilah memilih buku untuk dibaca (foto: ©Joko Kebluk)

Anton mengatakan, momen bulan ramadhan, sehabis sholat terawih, sembari menjajakan dagangannya di alun-alun Kecamatan Sidareja, Anton bersama teman-teman anggota Gembus, sengaja menggelar lapak beralaskan karpet untuk memajang koleksi buku. Semacam perpustakaan pada umumnya, namun yang membedakan tidak ada rak buku serta meja bagi pembaca.

“Itu (membaca) gratis, kita malah seneng kalo ada yang mau membaca,” kata Anton.

Bukan hanya membaca ditempat, bahkan, Anton memperbolehkan buku koleksinya untuk dipinjam untuk dibaca dirumah, dengan syarat mengisi daftar identitas peminjam dan diberi waktu satu minggu semenjak tanggal peminjaman.

Menurutnya, budaya membaca dikalangan muda sudah sangat memprihatinkan. Budaya yang seharusnya dapat membuka wawasan itu terkalahkan oleh gadget canggih yang bahkan anak Sekolah Dasar (SD) sudah sangat pintar memainkan gadget canggihnya hanya untuk main game.

“Maka dari itu, saya dan temen-temen punya inisiatif membuat gerakan. Ya ini, gerakan membaca,” tambah Anton sembari goreng otak-otak dagangannya.

Saat ditanya mengenai koleksi buku, sebagian besar koleksi buku-buku tersebut dari hasil sumbangan dan sebagian memang milik pribadinya.

Dia mengharapkan, kedepan orang yang peduli dan hobi membaca, dapat ikut bergabung di komunitas Gembus nantinya.

(Rsh/RK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *