Tetap Nasionalis dan Cantik Ala Paskibra Kecamatan Kedungreja

Kedungreja – Canda bocah-bocah masih terus berlanjut, tiga bocah laki-laki sekira umur lima sampai delapan tahun tampak lincah sekali loncat sana loncat sini. Berkali-kali kerumunan bocah itu menunjukan gerakan salto. Bahkan, salah satunya, dengan bangga berdiri dengan tumpuan kepala, seperti memberitahu kepada dunia, bahwa mereka bisa.

image
Bocah-bocah kecil memaknai hari kemerdekaan dengan riang gembira.

Dari sudut lain, satu peleton Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) baru saja usai bertugas. Wajah merah padam menahan terik matahari seperti tak dirasakan, dari kejauhan namun sangat jelas, air mata bahagia, luntur membasahi pipi.

image
Para panggawa Pasukan Pengibar Bendera Kecamatan Kedungreja.

Kamis, 17 Agustus 2017 memang menjadi hari yang sangat ditunggu-tunggu seluruh masyarakat Indonesia. Masyarakat puncak gunung hingga pelosok desa menunggu dan ikut berpartisipasi pada upacara sakral memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-72.

Tak terkecuali, bagi anggota Paskibra Kecamatan Kedungreja yang bertugas kali ini. Berseragam putih-putih, lengkap dengan atribut khas pasukan pengibar bendera, mereka menunjukan bagaimana bangganya menjadi bagian terpenting upacara 17 Agustus yang selalu diperingati sebagai tonggak sejarah.

image
Pengejawantahan perjuangan muda mudi Bangsa dengan menjadi Paskibra.

Fatfuri, komandan peleton pasukan pengibar bendera Kedungreja, merasa bangga karena telah menuntaskan tugas. Pengejawantahan perjuangan itulah yang menjadikan bangga luar biasa. Menciptakan perasaan heroik disetiap dada pemuda Indonesia, sehingga Fatfuri tak mampu berkata-kata saat diwawancarai.

“Sedih, bahagia,” itu saja yang keluar dari mulut Fatfuri.

image
Paskibra Kecamatan Kedungreja, berfoto bersama para orang tua.

Berhijab

Selain penampilan yang apik sesuai rencana, ada yang berbeda dari pembawaan paskibra tahun ini. Ya, mereka, para srikandi paskibra, kali ini diharuskan menggunakan hijab.

Aiptu Suradi, pelatih paskibra Kecamatan Kedungreja tahun 2017 mengatakan, penggunaan hijab bagi punggawa paskibra putri memang sudah direncanakan sejak awal latihan.

“Itu sudah direncanakan dari awal, memang untuk paskibra Kedungreja sepakat untuk menggunakan hijab, untuk yang perempuan,” kata Suradi saat ditemui radiokusuma.com.

Selama latihan dari tanggal 1 Agustus, kata Suradi tidak ada kendala berarti. Hanya saja, faktor kecapean saat latihan, kerap kali datang, itu dapat diatasi dan tidak mengganggu performa.

Sementara Dhea Fitriani, terlihat hatinya begitu berbunga-bunga. Diketahui, ini adalah kali ke-empat dirinya menjadi paskibra. Saat ditanya kesulitannya menjadi paskibra, gadis cantik siswi SMAN 1 Kedungreja kelas XI (sebelas) IPA itu mengaku hampir tidak ada kesulitan yang berarti.

image
Para Srikandi Paskibra, meski berhijab tetap apik dan cantik.

Dia juga menyatakan sangat nyaman menggunakan hijab, selain menutupi aurat perempuan. Hijab ternyata dapat menutupi dari panas terik matahari.

“Bisa melindungi dari panas, juga untuk meutup aurat,” kata Dhea singkat.

Hal senada juga dikatakan sembilan pasukan pengibar pendera lainnya, mereka mengaku selain dapat menutup aurat, pemakaian hijab pada paskibra ternyata diakui lebih terlihat rapih.

Sepuluh (10) anggota paskibra putri bertugas di upacara 17 Agustus yang digelar Forkompimca Kedungreja di Lapangan Desa Kaliwungu. Kesepuluh anggota tersebut adalah siswi-siswi pilihan dari berbagai SMA/SMK sederajat di Kecamatan Kedungreja.

Selain sepuluh srikandi terpilih, duabelas (12) orang siswa laki-laki dari berbagai SMA/SMK sederajat di Kedungreja pula, turut andil mensukseskan peringatan upacara 17 Agustus sebagai tonggak sejarah bagaimana Bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan.

Prosesi upacara peringatan HUT RI ke-72 dilapangan Desa Kaliwungu, yang digelar forkompimca Kedungreja keseluruhan berjalan lancar. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam sambutannya yang dibacakan Camat Kedungreja, Agus Supriyono selaku Inspektur upacara mengatakan, hari ini 17 Agustus 2017 telah mengobati kerinduannya kepada rasa nasionalisme.

“Hari ini, saya sangat rindu dan mengingatkan disebuah kampung. Banyak anak-anak, orang tua membuat bendera dari berbagai bahan. Bendera merah putih, lalu dirangkai dengan kokoh menggunakna bambu, kemudian memasangnya didepan pintu rumah dan seterusnya,” kata Ganjar melalui Camat Kedungreja Agus Supriyono.

Lebih lanjut, Ganjar menuturkan, dengan mengibarkan Bendera Merah Putih, sambil berpekik merdeka!!! Rasa nasionalisme dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia semakin mengemuka dan bergelora didalam dada. Dan mengingatkan semua masyarakat Indonesia kepada mereka (pahlawan) yang berjuang untuk bangsa ini hingga merdeka.

Reporter : Rachman Syarif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *