Kalau Bisa Dipersulit, Kenapa Harus Dipermudah?

Radiokusuma.com – Hallo Netijen. Kalian ini gimana? Menghujat mereka (oknum) pegawai rumah sakit yang minta duit. Mereka juga pasti butuh duitlah, buat makan, jajan, sekolahin anak, belanja, banyak lagi lah. Cari duid, dimanapun bagaimanapun yang penting kan halal bagi mereka.

Emang kalian tau, rejeki yang halal begimana? yang haram begimana? Mereka lebih tau, tau! Ini soal kepercayaan, keyakinan yang HQQ. Mau gimana??

Mereka tau, bakal mencuat ini kasus. Tapi, gapapa kali ye. Ilmu mereka udah kepalang tinggi. Ancaman hukuman maksimal seumur hidup seperti nggak dihiraukan. Mau gimana?

Mereka segelintir orang yang benar – benar mengerti asas pekerja, lho. Menurut mereka, menjual jasa ya harus dibayar. Ya, termasuk mereka korban bencana alam, harus tetep bayar. Lha, mereka (oknum) butuh duit, je. Mau gimana?

Mereka tau, biaya rumah sakit korban bencana bakal ditanggung pemerintah. Tapi kalo ngga begitu (pungli), mereka dapet uang tambahan dari mana lagi?

Lagipula belum ada seupilnya, kalo dibandingkan pungli para junjungan mereka. Yakini saja, mereka belajar dari oknum pejabat korup, lagipula oknum pegawai cuma kasih bandrol sejutaan per jenazah. Dari 34 jenazah korban tsunami di rumah sakit, cuma enam jenazah aja kok yang disuruh bayar.

Sudahlah, mereka lebih tau dunia mereka. Mereka sudah ditetapkan sebagai tersangka,  mereka tidak bisa lagi mengurus orang sakit, memulasara jenazah, yang paling utama mencari nafkah halal versi netijen. Pertanyaannya, siapa nanti yang jadi generasi penerus mereka? Generasi korup [semoga ngga ada]. Ini masih menjadi MISTERI.

Taik. eh, Tabik!!!

Penulis : Rachman Syarif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *